Pamer Kedekatan Dengan Tuhan

Kedekatan-dengan-Tuhan-c-saydha.wordpress.com_
google.com

Tulisan menarik Prof. Nadirsyah Hosen. Cocok untuk muhasabah.

Kalau anda merasa dekat dengan pejabat atau artis boleh lah dipamerkan, tapi kedekatan dengan Tuhan tidak untuk dipamerkan. Kenapa? Begini penjelasannya.

Kedekatan dengan sesama manusia itu hal yang wajar: bisa selfie, saling mention atau follbek. Pejabat, tokoh atau artis itu juga manusia, sama dengan kita.

Relasi dengan sesama via medsos itu fitrah kita selaku manusia untuk saling mengenal, bekerjasama, dan silaturahmi, jadi silakan ditunjukkan di publik.

Namun relasi dengan Tuhan itu berbeda. Tidak untuk diumbar apalagi dipamerkan via medsos, mengapa demikian? Karena ini soal hati yang paling dalam.

Semakin dekat anda dengan Tuhan, semakin anda hendak merahasiakannya. Semakin merunduk dan semakin merendahkan diri serendah-rendahnya.

Kalau pejabat/artis butuh dukungan anda sebagai konstituten atau fans, Tuhan tidak butuh anda sebagai hamba apalagi kekasih. Kitalah yg membutuhkanNya.

Tuhan terlepas dari sebab akibat. Tuhan tidak dibebani kewajiban mengabulkan pinta hanya karena kita rajin beribadah.

Sejak kapan Tuhan bisa disogok oleh ibadah kita yang ga ada apa-apanya itu, atau oleh keluh kesah kita yang berisik itu? Tuhan bebas semau Dia.

kita tdk bisa mengklaim peristiwa ini dan itu terjadi karena doa dan ibadah kita, maka kita tidak bisa pamer terkabulnya doa kita di medsos.

Mengklaim terkabulnya doa atau pamer kedekatan dengan Tuhan itu justru pagar keakuan diri yang bukannya kita hancurkan tapi malah kita tinggikan.

Agama mengajarkan doa kebaikan, kita malah mendoakan orang lain celaka di medsos. Agama mengajarkan kita menebar rahmat, bukan laknat.

Celakanya bukan saja pamer merasa dekat dengan Tuhan, kita juga bersorak atas musibah orang lain, seolah Allah mengazabnya. Tahu dari mana bro?

Tidak ada yang bisa memastikan musibah itu sebagai cobaan atau azab. Tidak ada yang bisa memastikan sukses atau gagal itu akibat doa kita atau org lain.

Maka dibutuhkan kerendahan hati untuk mendekati Sang Maha Tinggi. Kita harus kosong dari keinginan agar hati kita dipenuhi oleh kehendakNya.

Siapa yang memelihara keinginannya, maka setan akan mengendarainya. Siapa yang berserah diri padaNya, maka Allah akan membimbingnya.

Siapa yang merasa dekat dengan Tuhan, maka Tuhan akan menjauh darinya. Siapa yang merasa suci, maka sejatinya dia sangat kotor.

Semakin dekat kita dengan Tuhan, akan semakin kita merasa kotor, bukan merasa suci; semakin merasa tidak layak, bukan malah pamer koar koar di medsos.

Yang merasa bertindak atas namaNya, akan dihinakanNya. Yang merasa hamba padaNya, akan diangkat ke tempat yang mulia.

Yang merasa bodoh, akan ditambahi ilmuNya. Yang merasa tahu segalanya, akan dipermalukanNya. Yang merasa faqir, akan diberi.

Sekali lagi, jebakan setan itu amat tipis. Kedekatan dengan Tuhan tidak bisa dipamerkan. Itu rahasia antara kita dengan Tuhan.

Kalau anda pamer rahasia anda dengan Tuhan, artinya anda tidak merasa cukup denganNya, anda seolah masih butuh pengakuan orang lain.

Anda butuh pengakuan orang lain bahwa anda dekat dengan tokoh ternama, maka anda pamerkan, tapi anda tidak boleh pamer kedekatan anda dengan Tuhan.

Semoga bulan puasa ini kita semakin menyembunyikan diri kita dalam peluk mesraNya. Puasa itu ibadah sunyi. Latihan merahasiakan hubungan kita dengan Tuhan.

Tabik,
Nadirsyah Hosen

Semoga bermanfaat 🙂

MENGUAK RAHASIA SUKSES PENAKLUK DUNIA

kesuksesan-seorang-pengusaha.jpg
neepow.com

Banyak yang mengira bahwa kesuksesan seseorang itu selalu diukur dan dinilai berdasarkan kecerdasan akal semata. Padahal banyak bukti yang memperlihatkan betapa banyak orang yang dianggap “bodoh” oleh orang lain maupun suatu lembaga seperti sekolah ternyata mampu menunjukkan prestasi yang luar biasa dan bahkan mengalahkan orang-orang yang dulunya dianggap cerdas, potensial, dan sangat berprestasi.

Sederet orang-orang terkenal dunia ternyata telah membuktikan bahwa dianggap bodoh dan bahkan di DO (droup out) dari sekolah dan kampusnya tidak menciutkan semangat dalam mewujudkan mimpi mereka. Namun yang pasti, sukses di mimbar akademik bukan berarti membuat seseorang pasti akan sukses pula ketika terjun dan bergabung di tengah masyarakat.

Peran Orang Tua Dan Mengikuti Nasehatnya

Pernahkah anda mendengar nama Nancy Matthews?? Sosok seorang ibu yang telah berjuang keras membesarkan anaknya sendiri lantaran anaknya dianggap “bodoh” oleh pihak sekolah. Akhirnya sekolah mengeluarkan surat yang berisi mengeluarkan anaknya bernama Tommy yang dianggap bodoh tersebut. Ibunya pun kaget lantaran menerima dan membaca surat itu dan sejak saat itu ia bertekad mendidik dan mengajar Tommy sendiri. Anak yang secara fisik agak tuli tersebut akhirnya hanya menikmati bangku sekolah selama 3 bulan.

Siapakah Tommy yang memiliki pendengaran kurang baik dan juga tidak pintar tersebut??? Dialah Thomas Alva Edison, seseorang yang sampai saat ini paling berjasa sebagai pengembang bola pijar pada tahun 1879 dan penemu 1.093 hak paten penemuan. Berkat tekad dan perjuangan ibunyalah seseorang yang bukan genius, bocah agak tuli yang bodoh sampai-sampai dikeluarkan dari sekolah tersebut dapat menjadi bagian dari orang yang “anfa’uhum linnas”. Kini, jasanya sudah tak terhitung jumlahnya bagi peradaban umat manusia, mulai dari penereangan listrik, kamera perfilman, proyektor, mesin copy, telegram, serta kemunculan hampir semua alat-alat elektronik yang kita pakai saat ini tidak lepas dari jasanya.

Berbagi Membati-Buta

“Dermawan menjadi menawan”. Ungkapan itu sungguh layak disandang oleh orang yang telah mendermakan dan menyumbangkan lebih dari US$ 1,5 miliar untuk kesehatan dan pendidikan. Dialah Bill Gates pendiri Microsoft yang dinobatkan sebagai orang terkaya dunia. Dia mengaku bahwa semua pencapaian ini tidak lain karena ibunya.

Awalnya, Bill Gates merupakan sosok yang enggan untuk mendonasikan harta yang dimiliki. Namun karena dorongan dan bahkan paksaan dari ibunyalah Gates mau belajar untuk menjadi orang yang dermawan. Seperti disampaikan oleh jurnalis Wall Street, Robert A. Guth saat Microsoft IPO di tahun 1986, Gates semakin kaya dan Microsof semakin besar, ibunya memaksa anaknya tersebut untuk memberikan sejumlah uang kepada orang yang tidak mampu. Awalnya Gates menolak dengan alasan karena ia masih butuh modal untuk mengembangkan perusahaannya tersebut. Namun setelah sang ibu memberikan pengertian, akhirnya Gates pun menuruti nasehat sang ibu. Sejak saat itulah Bill Gates dikenal sebagai miliuner yang dermawan. Mendonasikan harta yang dimiliki tidak lantas membuat perusahaan yang didirikan Gates bangrut, namun justru semakin membuatnya melejit dan semakin kaya tidak ketulungan. Gates menempati peringkat atas orang terkaya di dunia selama 16 tahun terakhir. Menurut catatan Majalan Forbes, harta Gates naik 4,2 persen pada tahun 2015, yakni US$ 79,2 miliar lebih tinggi dari torehan tahun sebelumnya sebesar US$76 miliar. Inilah yang disebut dengan “the miracle of giving”, the more you give the more you receive, kira-kira begitu.

Belakangan Bill Gates mengajak sejumlah rekan senasib seperjuangan sesama penyandang predikat orang terkaya dunia untuk turut serta mendonasikan hartanya demi kepentingan sosial. Beberapa di antaranya adalah Mark Zackerberg, Gordon Moore (pendiri Intel), dan Omirdyar sebagai bos eBay. Sebuah lembaga bernama Wealth-X merilis sejumlah nama besar yang gemar menderma. Beberapa di antaranya:

  1. Bill Gates yang mendonasikan 32 persen kekayaan ke berbagai organisasi social seperti Unicef dan WHO.
  2. Warrant Buffet (CEO Berkshire Hathaway) telah mendonasikan 35 persen dari kekayaan, dan bahkan tidak tanggung-tanggung di tahun 2006 pernah menyumbangkan 86 persen kekayaan ke yayasan milik Bill Gates dan istrinya (Bill & Miranda Gates Foundation).
  3. Gordon Moore merupakan Co-founder Intel mendonasikan sekitar 77 persen kekayaan untuk pelestarian lingkungan.
  4. Paul Allen, chairman dari Vulcan, sebuah perusahaan yang berfokus dengan investasi. Ia mendonasikan 12 persen dari kekayaannya untuk penelitian tentang kesehatan.
  5. Mark Zuckerberg CEO Facebook telah menyumbangkan separuh dari kekayaan untuk kepentingan kesehatan dan pendidikan.
  6. Pierre Omidyar, Co-Founder sekaligus chairman dari eBay yang menyumbangkan US$1 miliar untuk hak asasi manusia, makanan, energy, dan juga teknologi.
  7. Lanjutkan sendiri ya.

Masih Tak Percaya Hadits?

Rasulullah SAW dalam haditsnya sering menyinggung keutamaan berbakti kepada orang tua maupun bersedekah. Terdapat sebuah hadits tentang sanksi durhaka kepada orang tua maupun nasehat tentang anjuran bersedekah yang patutnya kita perlu renungkan bersama-sama.
Pernahkah merasakan usahanya jalan di tempat atau bahkan justru malah bangkrut??? Mungkin saja ada yang salah dalam sikap kita terhadap orang tua maupun kepada orang lain. Kita sering membantah nasehat orang tua?, kita sering menyakiti orang tua??, kita menyia-nyiakan orang tua??? Dalam sebuah hadits dikatakan:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ((كُلُّ الذُّنُوبِ يُؤَخِّرُ اللهُ مَا شَاءَ مِنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا عُقُوقَ الْوَالِدَيْنِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُعَجِّلُهُ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَيَاةِ قَبْلَ الْمَمَاتِ))
Dari Abi Bakrah ra.,berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Segala bentuk dosa akan ditangguhkan pembalasannya oleh Allah SWT hingga datangnya hari kiamat kecuali dosa berupa durhaka kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Allah SWT akan menyegerakan pembalasan bagi orang yang durhaka saat masih hidup di dunia sebelum menemui kematian”.

Berbakti kepada orang tua sudah, tapi mengapa karir dan usaha juga tidak kunjung membaik?? mungkin saja kita masih pelit dan tidak mau berbagi kepada orang lain. Dalam sebuah hadits dikatakan:

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَواضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Tiada berkurang harta karena sedekah. Allah pasti akan menambah kemuliaan kepada seseorang yang suka memaafkan. Dan seseorang yang selalu merendahkan diri karena Allah, pasti Allah akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim).
Kesimpulannya : yang nonmuslim saja menjalankan apa yang pernah disabdakan Rasulullah SAW dan terbukti sukses mengubah peradaban dunia sehingga namanya pun tak lepas dari catatan sejarah dunia, masak kita yang umat beliau malah mengabaikannya.

Cerdas ? kagak..

Punya hak paten ? kagak..

Kaya? juga kagak..

Tapi mengapa masih enggan mendengarkan nasehat orang tua, masih menyakiti orang tua, atau bahkan menyia-nyiakan orang tua. Yang kaya tidak ketulungan saja masih mendengarkan nasehat orang tua ditambah dengan mau membantu menyumbangkan hartanya untuk orang lain, mengapa kita tidak. Andaikan ada yang bilang bahwa mereka kan kaya, wajar bersedekah. Catat!! sedekah itu tak harus berupa harta, tapi apa saja yang kita bisa bagikan dan kita lakukan untuk orang lain juga atas nama sedekah. Minimal berbagi senyum ya 😀

Sumber : Ustadz Hisan 😀

Semoga bermanfaat 🙂

 

Tentang ILMU dan ADAB

tumblr_onltm0GvxC1rakvtzo1_540
google.com

 “Ehh, saya kok lebih senang bergaul dengan si B yang akhlaknya baik walaupun sedikit ilmunya”. [SMS seorang A]

“Kok dia suka bermuka dua dan dengki sama orang lain, padahal ilmunya masyaAlloh, saya juga awal-awal “ngaji” banyak tanya-tanya agama sama dia”. [ Pengakuan seorang C ]

“Saya suka bergaul dengan si D, memang dia belum lancar-lancar amat baca kitab tapi akhlaknya sangat baik, murah senyum, sabar, mendahulukan orang lain, tidak egois, suka menolong dan saya lihat dia sangat takut kepada Alloh, baru melihatnya saja, saya langsung teringat akherat”. [Pengakuan seorang E ]

Mungkin fenomena ini kadang terjadi atau bahkan sering kita jumpai di kalangan penuntut yang sudah lama “ngaji” . Ada yang telah ngaji 3 tahun atau 5 tahun bahkan belasan tahun tetapi akhlaknya tidak berubah menjadi lebih baik bahkan semakin rusak. Sebagian dari kita sibuk menuntut ilmu tetapi tidak berusaha menerapkan ilmunya terutama akhlaknya. Sebaliknya mungkin kita jarang melihat orang seperti dikomentar ketiga yang merupakan cerminan keikhlasannya dalam beragama meskipun nampaknya ia kurang berilmu dan. semoga tulisan ini menjadi nasehat untuk kita semua.

Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid

Hal ini yang perlu kita perhatikan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagaimana Aisyah radhiallahuanha menggambarkan langsung akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, Aisyah radhiallahuanha berkata:

 “Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

Yang berkata demikian Adalah Aisyah radhiallahuanha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer akhlak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahualaihi wa sallam bersabda:

 “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].

Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.

Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rasulullah shallallahualaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda:

 “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullahu menjelaskan hadist ini:

“Barangsiapa bertakwa kepada Alloh, merealisasikan ketakwaannya dan berakhlak kepada manusia -sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka- dengan akhlak yang baik, maka ia medapatkan kebaikan seluruhnya, karena ia menunaikan hak hak Alloh dan Hamba-Nya.[Bahjatu Qulubil Abror hal 62, cetakan pertama, Darul Kutubil ‘ilmiyah]

Demikian pula sabda beliau shallallahualaihi wa sallam :

”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Tingginya ilmu bukan tolak ukur iman dan tauhid

Karena ilmu terkadang tidak kita amalkan, yang benar ilmu hanyalah sebagai wasilah/perantara untuk beramal dan bukan tujuan utama kita. Oleh karena itu Allah berfirman:

 “Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” [Al-Waqi’ah: 24]

Dan cukuplah peringatan langsung dalam Al-Qur’an bagi mereka yang berilmu tanpa mengamalkan:

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan hal yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaff : 3)

Dan bisa jadi Ilmunya tinggi karena di karuniai kepintaran dan kedudukan oleh Allah sehingga mudah memahami, menghapal dan menyerap ilmu.

Ilmu Agama hanya sebagai wawasan ?

Inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki bersama, sebagian kita giat menuntut ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui keilmuannya. Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ilmu agar menambah akhlak dan amal kita.

Ibnul Qayyim rahimahullahmengatakan:

“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah juga tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.” [Al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ats-Tsaqofiy]

Sibuk belajar ilmu fiqh dan Ushul, melupakan ilmu akhlak dan pensucian jiwa

Yang perlu kita perbaiki bersama juga, sebagian kita sibuk mempelajari ilmu fiqh, ushul tafsir,ushul fiqh, ilmu mustholah hadistdalam rangka memperoleh kedudukan yang tinggi, mencapai gelar “ustadz”, menjadi rujukan dalam berbagai pertanyaan. Akan tetapi terkadang kita lupa mempelajari ilmu akhlak dan pensucian jiwa, berusaha memperbaiki jiwa dan hati kita, berusaha mengetahui celah-celah setan merusak akhlak kita serta mengingat bahwa salah satu tujuan Rasulullah shallallahualaihi wa sallam diutus adalah untuk menyempurnakan Akhlak manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” [H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani].

Ahlak yang mulia juga termasuk dalam masalah aqidah

Karena itu kita jangan melupakan pelajaran akhlak mulia, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memasukkan penerapan akhlak yang mulia dalam permasalahan aqidah. Beliau berkata :

“Dan mereka (al-firqoh an-najiah ahlus sunnah wal jama’ah) menyeru kepada (penerapan) akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik. Mereka meyakini kandungan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang paling sempuna imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka“. Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskan silaturahmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, dan ahlus sunnah wal jama’ah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bertetangga dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para musafir, serta bersikap lembut kepada para budak. Mereka (Ahlus sunnah wal jama’ah) melarang sikap sombong dan keangkuhan, serta merlarang perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab ataupun tanpa sebab yang benar. Mereka memerintahkan untuk berakhlak yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk”. [lihat Matan ‘Aqiidah al-Waashithiyyah]

Bagi yang sudah “ngaji” Syaitan lebih mengincar akhlak bukan aqidah

Bagi yang sudah “ngaji”, yang notabenenya inshaAllah sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelak lainnya.

Syaitan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Allah azza wa jalla menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:

 “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16-17)

Kita butuh teladan akhlak dan takwa

Disaat ini kita tidak hanya butuh terhadap teladan ilmu tetapi kita lebih butuh teladan ahklak dan takwa, sehingga kita bisa melihat dengan nyata dan mencontoh langsung akhlak dan takwa orang tersebut terutama para ustadz dan syaikh.

Yang perlu kita perhatikan juga, jika menuntut ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlak dan adab orang tersebut baru kita mengambil ilmunya. Ibu Imam Malik rahimahullahu, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Imam Malik rahimahullahu mengisahkan:

“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’. (Waratsatul Anbiya’, dikutip dari majalah Asy Syariah No. 45/IV/1429 H/2008, halaman 76 s.d. 78)

Kemudian pada komentar ketiga,“Baru melihatnya saja, saya langsung teringat akherat

Hal inilah yang kita harapkan, banyak teladan langsung seperti ini. Para ulama pun demikian sebagaimana Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata:

“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” [Al Waabilush Shayyib hal 48, cetakan ketiga, Darul Hadist, Maktabah Syamilah]

Sudah lama “ngaji” tetapi kok susah sekali memperbaiki Akhlak?

Memang memperbaiki Akhlak adalah hal yang tidak mudah dan butuh “mujahadah” perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlak.

Berkata Abdullah bin Mubarakrahimahullahu :

“Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”. [Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah]

Dan kita tetap terus menuntut ilmu untuk memperbaiki akhlak kita karena ilmu agama yang shohih tidak akan masuk dan menetap dalam seseorang yang mempunyai jiwa yang buruk.

Imam Al Ghazali rahimahullahuberkata:

“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” [Thabaqat Asy Syafi’iyah, dinukil dari tulisan ustadz Kholid syamhudi, Lc, majalah Assunah].

Jadi hanya ada kemungkinan ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ilmu agama itu akan memperbaiki kita. Jika kita terus menerus menuntut ilmu agama maka insyaAlloh ilmu tersebut akan memperbaiki akhlak kita dan pribadi kita.

Mari kita perbaiki akhlak untuk dakwah

“orang salafi itu ilmunya bagus, ilmiah dan masuk akal tapi keras dan mau menang sendiri” [pengakuan seseorang kepada penyusun]

Karena akhlak buruk, beberapa orang menilai dakwah ahlus sunnah adalah dakwah yang keras, kaku, mau menang sendiri, sehingga beberapa orang lari dari dakwah dan menjauh. Sehingga dakwah yang gagal karena rusaknya ahklak pelaku dakwah itu sendiri. Padahal rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Mudahkan dan jangan mempersulit, berikan kabar gembira dan jangan membuat manusia lari” [HR. Bukhari, Kitabul ‘Ilmi no.69]

Karena Akhlak yang buruk pula ahlus sunnah berpecah belah, saling tahzir, saling menjauhi yang setelah dilihat-lihat, sumber perpecahan adalah perasaan hasad dan dengki, baik antar ustadz ataupun antar muridnya. Dan kita patut berkaca pada sejarah bagaimana Islam dan dakwah bisa berkembang karena akhlak pendakwahnya yang mulia.

Jangan lupa berdoa agar akhlak kita menjadi baik

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahualaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:

 “Ya Allah, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” (HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)

Dan doa dijauhkan dari akhlak yang buruk:

 “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. Tirmidzi no. 3591, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Dzolalul Jannah: 13)

Semoga Allah meluruskan niat kita dalam menulis dan memperbaiki akhlak dari kita semua.

Sumber : Muslimafiyah.com

Semoga bermanfaat.

Galau ? Yuk curhat

Kegembiraan adalah pintunya kesedihan, dan kesedihan adalah pintunya kebahagiaan . Ga ada yang selama-lamanya. Ketika Allah swt memberikan 1 kesulitan maka Dia menemaninya dengan 2 kemudahan.

“Fa inna ma’a al-usri yusraa, inna ma’a al-usri yusraa”

Masalahnya bukan seberapa besar dosa kita. Tapi seberapa besar taubat kita kepada Allah swt. Atau tantangan kita bukan berapa kali kita jatuh. Namun berapa kali kita memutuskan untuk kembali bangkit.
Berharap kebaikan dari-Nya adalah wajib. Sedang berputus asa dari rahmat-Nya adalah tidak boleh. Maka ketika lapang, bagikanlah kesenangan pada orang lain. Mudah-mudahan ada pula yang berbagi senang ketika kita dalam keadaan susah.
Namun, ketika galau lebih baik dipendam sendiri dan diadukan kepada Allah. Khawatir bila diadukan pada manusia akan menambah beban mereka. Semua manusia pasti punya masalah yg sama berat. Hanya sebagian mengadukannya pada manusia dan sebagian lagi mengadukannya pada Allah.
Sayangnya yang mengadukan galau pada ramai manusia. Tak mendapat kecuali mengumbar aib dan kelemahan diri, tanda ketidakmatangan. Yang layak digalaukan bukan sesuatu yg akan pudar seiring waktu. Lebih pantas menggalau akan hari yg lebih panjang, masa yg lebih lama.
Sebagaimana seorang tukang parkir tak menggalaukan mobil yang datang dan pergi. Karena dia sadar itu bukan miliknya. Begitupun manusia, merasa kehilangan padahal ia tidak pernah memiliki apapun. Kecuali yang dipinjamkan Allah kepadanya.
Begitulah Abu Bakar memperingatkan bahwa cukup dunia ditaruh ditangan.Tak perlu dimasukkan kedalam hati, karena ia akan segera mengakar. Karena keindahan dunia layaknya mawar berduri. Makin kuat digenggam, semakin sakit dirasa.
Kepunyaan Allah-lah seluruh isi langit dan bumi, dan kepada-Nya lah segala sesuatu menyembah. Apa yang kita miliki?
Tekukkan lutut, angkat telapak tangan, mulailah berdoa kepada Pemilik dan Pemberi Kehidupan. Insha Allah Dia berkenan mengangkat sedih. Galau bisa jadi berarti kita kurang mengingat-Nya. Dan tak ada sesuatupun menggalaukan bila semua kita wakilkan pada Allah Swt.
Bukankah di Alquran sudah dijelaskan dalam surat Ar Ra’du (13) : 28 Allah berfirman :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.

Walaupun begitu, memang manusia diciptakan dalam keadaan rapuh, hanya 1 cara untuk menjadi kuat. Mendekatlah pada Allah 🙂
Well, wahai kau manusia, jangan galau galau lagi ya. Kalau emang hidupmu banyak masalah, banyak pikiran, atau banyak utang 😀 . Jangan risau risau lagi. Mungkin dengan risaumu (dengan galaumu) kamu di ingatkan Allah supaya kamu lebih dekat lagi denganNYA. Mungkin kamu dulu dulunya emang kurang dekat sama Allah maka dengan itu Allah ingatkan lagi kamu supaya semakin ingat dan dekat denganNYA. Yakinlah semakin kamu ingat dan dekat dengan Allah, hidupmu pasti akan berkah dan bahagia 🙂 .
Semoga bermanfaat 🙂

I’m a Introvert

Tulisan ini sebagian mengcopy paste dari blognya bang ri’pi dan bang banban 😀 , seneng aja tiba-tiba nemu artikel yang membahas tentang seorang sosok penyendiri di antara orang-orang yang sedang berkumpul. Sosok pendiam di antara sekelompok orang yang sedang berinteraksi. Sosok yang terlihat serius di tengah keadaan yang tenang.
Sosok ini berbeda, tak seperti kebanyakan orang. Namun ia bukanlah anti-sosial, hikikomori, pemalu ataupun seorang yang berpenyakit. 

“Ia adalah… seorang INTROVERT!”

Introvert itu adalah sifat dan karakter seseorang yang cenderung menyendiri. Dia lebih suka duduk bersama secangkir teh dalam satu tempat yang tenang. Mereka adalah pribadi yang tertutup dan mengesampingkan kehidupan sosial. Orang introvert selalu tertutup sama seseorang yang menurut mereka bukan wadah yang “tepat”. Tapi ingat, Introvert bisa berubah menjadi kebalikannya seketika mereka ketemu dengan seseorang yang punya ketertarikan, hobi, dan cara komunikasi yang sama.

Dijelaskan bahwa yang membedakan Introvert dan Ekstrovert secara dasar adalah bagaimana cara mereka mengambil energi. Introvert mengambil energi dari lingkungan (diri) sendiri, sedangkan Ekstrovert mengambil energi dari lingkungan di luar dirinya sendiri. Singkatnya, sifat Ekstrovert lebih butuh rasa sosial, cahaya, kebisingan, dan ruang lingkup yang luas. Sedangkan Introvert lebih butuh secangkir kopi hangat dan ngumpul bareng sama beberapa teman dekat aja daripada pergi ke tempat yang penuh sama orang asing. Introvert benci basa-basi. Makanya, mereka senang sama perbincangan yang padat dan bersifat informatif. Introvert adalah pribadi yang “dalam”. (dalamnya dalam banget, :-D)

Kelebihan Seorang Introvert :

1). Introvert adalah teman yang loyal 

Pernah dengar curhatan dari seorang introvert? eh.. gak pernah? kasian deh.. introvert orangnya tertutup dan penuh privasi jadi saat dia menceritakan tentang dirinya kepada kalian, itu berarti kamu adalah teman terbaiknya. introvert punya sedikit sahabat tapi gak bakal ngelepas sahabatnya begitu aja, jadi jangan kuatir kalau mereka menusukmu dari belakang, karna hal ini hampir gak mungkin, mereka adalah orang yang dapat dan pantas dipercaya lebih dari siapapun yang ada di dunia ini. 

2). Introvert lebih fokus sama hal yang bersifat psikis daripada fisik

Mereka adalah orang-orang peka, tapi bukan sensian loh ya. Mereka seneng banget menjelajahi ruang pikirnya. Mereka baca buku, nonton tayangan yang menurut mereka bisa ngasah otak, karena mereka haus dengan segala hal yang berbau informasi. Itulah sebabnya kenapa mereka punya kekuatan konsentrasi yang baik, mereka cepat menangkap dan berintelegensi tinggi. 

 3). Introvert adalah pemikir yang dalam.  

Mereka mampu melihat suatu hal dari segi manapun, berbeda dengan seorang Ekstrovert yang cenderung berpikir secara momentum saja. Selain itu mereka pandai dalam memilah sesuatu, baik itu hal kecil maupun besar, hal yang berguna maupun tidak.

“Kalo emang pemikiran Introvert sebaik itu, gimana kalo pas ngomong? Apa mereka bisa nyampein pesan secara detil kayak yang ada di pikirannya?”

Apabila ada dua orang Ekstrovert dan Introvert ditantang dengan satu pertanyaan, maka Ekstrovert akan ngejawab secara Hiperbola, sedangkan Introvert ngejawab dengan Akurat.

Contoh: Apabila dua orang Ekstrovert dan Introvert lagi makan siang dan se-meja bareng, maka seorang Ekstrovert akan berkata, “Ini makanan enak banget! Belum pernah saya nyobain yang seenak ini” lalu yang Introvert akan ngejawab, “Iya, enak.”

Itulah kenapa pribadi Ekstrovert selalu dianggap sebagai perusak survey dan bikin sebuah survey jadi nggak akurat. Ekstrovert itu lebay.

4).Seorang Introvert selalu bisa bersikap tenang menghadapi segala tekanan dan permasalahan.

Mungkin karena kebiasaan mereka yang menyendiri sehingga emosi mereka terlatih untuk tetap stabil. Mikir dulu sebelum ngomong adalah naluri alami mereka.

 5).Introvert adalah pendengar yang baik.

Jangan ngeremehin seorang introvert yang lagi menyimak dengan seksama, mereka ahli dalam ngegabungin fakta-fakta dan prinsip serta pemikiran orang lain, dibikin klausa sebab-akibat, lalu dikemas rapih dan terbentuklah sebuah tesis, sebuah jawaban yang dapat menjadi pemecah masalah bagi sebuah perdebatan yang terjadi.

 6). Mereka selalu peduli

Buat Introvert, diam bukan berarti gak ngerti apalagi gak peduli, tetapi mereka menganalisa. Kedetilan mereka akan segala hal membuat Introvert menjadi pekerja yang baik. Di dunia seni, Introvert adalah penguasa dan orang dengan kreatifitas berkelas nomor satu. Faktor ini terjadi karena mereka dapat menyelam penuh ke dalam pemikirannya. Biasanya seorang Introvert gemar menulis. Karena dalam menulis mereka dapat lebih terbuka dalam mempresentasikan pikiran ataupun membagikan pengalamannya kepada orang lain.

“Sementara introvert adalah kelompok minoritas dalam masyarakat, mereka membentuk sebuah mayoritas bagi orang-orang yang berbakat.” – Nicole Kidman

Bagaimana menghadapi seorang Introvert :

1). Hargai Privasi mereka.

2). Jangan pernah permalukan mereka di depan umum.

3). Kasih mereka waktu baradaptasi di situasi yang baru pertama kali ia alami.

4). Kasih mereka waktu untuk Berpikir. Jangan mengharap jawaban yang instan.

5). Jangan sekali-kali Menginterupsi mereka.

6). Kasih mereka saran-saran membangun yang berkaitan dengan hidup mereka.

7). Kasih mereka warning seenggaknya 15 menit sebelum kamu menyuruh mereka menyelesaikan apa yang lagi mereka kerjakan.

8). Tegur mereka secara pribadi, jangan di depan publik umum.

9). Ajarkan kemampuan/keterampilan baru yang ingin mereka pelajari secara pribadi.

10). Kasih mereka semangat untuk menemukan “One best friend” yang mempunyai kemampuan dan ketertarikan yang sama.

11). Jangan terlalu maksa mereka buat berteman dengan lebih banyak orang lain lagi di satu waktu.

12). Respect their Introversion. Jangan mencoba mengubah mereka menjadi sosok Ekstrovert 🙂

Orang pemalu dan Introvert kadang suka susah dibedain. Pemalu sama Introvert beneran jauh beda! #YouMustKnow :))

Seburuk-buruk Lelaki di Muka Bumi Adalah Dia yang Tak Shalat Jumat di Tengah Hari

YAKINI, bahwa seburuk-buruknya lelaki Muslim di muka bumi ini adalah dia yang tak menjalani kewajiban perintah Robbi untuk shalat Jumat di tengah hari. Rasai saja, bagaimana bisa shalat Jumat tengah hari yang begitu syari’i dicederai. Padahal itu terjadi di tengah hari dimana semua aktivitas di negeri ini tengah berhenti.

Yakini, seburuk-buruk lelaki di muka bumi ini adalah yang tak menjalani shalat Jumat hari tanpa udzur syar’i. Coba pikirkan dengan hati, shalat jumat yang tengah hari saja dinodai, bagaimana dia bisa menuruti perintah Allah pemilik Bumi soal shalat 5 waktu lainnya yang hakiki, dhuhur, ashar, maghrib, isya, yang notabene bisa dilakukan sendiri walau jauh lebih baik jika di masjid dibersamai? Apalagi sholat shubuh pada dini hari yang dingin mengungkung diri? Bisa dipastikan shalat Jumat yang notabena mudah dilewati, shalat lain yang lebih berat juga diingkari.

Mudah-mudahan diri sedang tak hakimi, karena laku orang hanya Robbi yang pahami dan ketahui. Namun yakinlah, bahwa seburuk-buruknya lelaki di muka ini adalah yang tak sudi jalani shalat Jumat tengah hari. Makanya hai para wanita, jangan ambil lelaki jenis ini untuk jadi suami. Panggilan Allah SWT yang mudah seperti shalat Jumat tengah hari saja dia cueki, apalagi nanti panggilan dari kamu yang cuma perempuan tak digubrisi. Bisa-bisa kamu makan hati. Kalaupun dia baik sekarang ini, itu karena sekarang ada yang dia maui.

Kalau ada lelaki buruk di muka bumi ini, pasti itu yang tak mau shalat Jumat tengah hari. Kalau dia ngaku ganteng, maka dia terlanjur lebay diri, karena pasti kegantengannya berkurang banyak persen, disebabi tak mau tunaikan perintah Robbi Maha Penguasa Jagat ini.

Satu lagi, lelaki paling buruk di muka ini sebenar-benarnya yang tak shalat Jumat tengah hari. Kata Ustadz Sanusi (dih, siapa Ustadz Sanusi ini?), kalau ada laki jenis ini, ajak dia ke pasar pagi-pagi, belikan dia rok satu biji, lalu suruh dia pake itu pakaian untuk gaya diri, karena masih kata Ustadz Sanusi, bisa jadi lelaki ini sebenarnya bukan lelaki, tapi sebenarnya …. Banci! Hiiii…..

Wahai Lelaki, Tugasmu Memberi Bukti bukan Janji!

LAKI-LAKI hari ini berbeda dengan laki-laki pada masa-masa sebelumnya. Laki-laki yang kita temui hari ini tidak sama dengan laki-laki yang pernah hidup dan mengisi cerita-cerita mengagumkan dalam buku-buku yang menggetarkan.

Laki-laki yang kita temui di luar rumah tentunya akan berbeda dengan yang ada di dalam rumah. Tidak seperti ayah, ayah adalah laki-laki yang berbeda. Meski bagaimanapun susahnya mengungkapkan cinta, ayah masih menjadi cinta pertama.

Bila ada laki-laki di luar sana yang mengajakmu pergi berdua, maka tanyakan padanya bagaimana bila kelak anak perempuannya diajak pergi oleh laki-laki sepertinya? Bila ada laki-laki di luar sana yang mencintaimu sedemikian rupa, tanyakan padanya apakah dia rela anak perempuannya nanti dicintai laki-laki yang memiliki sifat dan sikap sepertinya?

Tidak ada laki-laki yang belajar menjadi baik dengan cara seenaknya mengikat perasaan perempuan, menggenggam tangannya kemana-mana, dan memujinya sedemikian rupa.

Karena ketika ia belajar menjadi baik, laki-laki itu akan tahu dan mungkin bertanya bagaimana cara menghormatimu.

Bila kamu menemui yang demikian, bantulah ia menjadi baik. Bantulah ia dengan pengetahuan tentang perempuan yang seringkali malu ia tanyakan. Katakan padanya dengan lantang, “Selamat menjadi laki-laki, tugasmu adalah memberi bukti bukan janji.”